Teknologi

Apakah Robot AI Dapat Berbohong? Kebenaran Sejati Tentang Artificial Intelligence (AI)

By Robin Harris19 Februari 2018 7 Mins Read
16 0

AI dapat mengubah dunia, begitulah kata Silicon Valley. Namun terapat beberapa lubang di atas jalan menuju ke sorga AI, yang dimulai dari orang-orang yang seharusnya dibantu oleh AI.

Dalam sebuah kerja tim, orang-orang terbiasa melakukan hal-hal seperti menyampaikan kebohongan demi kebaikan atau dikenal sebagai white lies yang dinilai dapat membantu kesuksesan dari sebuah tim. Kita dapat menerima hal tersebut secara umum, ketika hal tersebut dilakukan oleh manusia. Namun, bagaimana apabila sebuah robot AI berkata bohong ataupun dibohongi?

Apabila kita memperbolehkan robot membohongi manusia, sekalipun bohong demi kebaikan, bagaimana pengaruhnya terhadap tingkat kepercayaan manusia? Bahkan apabila kita memberikan izin supaya robot AI dapat berbohong, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kebohongan tersebut bermanfaat untuk manusia dan bukannya untuk si robot?

Ilmuwan komputer Tathagata Chakraborti dan Subbarao Kambhampati dari Arizona State University, mendiskusikan kerja sama yang efektif antara manusia dan AI dalam tulisan barunya, ‘Algorithms for the Greater Good!’. Mereka menekankan bahwa tidak cukup hanya sekedar membuat AI menjadi pintar. Pembuatan AI harus dilakukan dengan memastikan robot AI dapat bekerja dengan baik terhadap nalar manusia, dalam berbagai hal termasuk perbedaan norma budaya, untuk menghindari terjadinya masalah yang serius.

Berikut ini cara mereka menggambarkan masalah tersebut:

Kolaborasi yang efektif antara manusia dengan sistem yang berbasiskan AI membutuhkan pemodelan yang efektif pula dari manusia yang terlibat... Namun, model dari manusia tersebut dapat pula membuka celah untuk terjadinya manipulasi dan gekploitasi terhadap manusia... ketika maksud atau nilai yang dimiliki AI dan manusia tidak sejalan atau ketika mereka tidak terhubung secara seimbang (hubungan asimetris) berkenaan dengan pengetahuan atau kehebatan komputasi.

Apabila  IBM, Intel, dan Nvidia menggunakan caranya masing-masing, maka akan muncul hubungan asimetris tersebut secara terus-menerus. Sebuah robot bisa jadi memiliki ribuan drone untuk melakukan survey terhadap area seluas beberapa kilometer persegi, atau menyimpan histori dan konteks tertentu sebesar satu miliar gigabytes, atau bahkan keduanya.

Saya, AI. Anda, Boneka Daging.

Para peneliti merancang sebuah penelitian untuk menyelidiki  interaksi antar manusia dan interaksi manusia dengan AI dalam skenario pencarian dan penyelamatan pada sebuah gedung yang rusak akibat gempa. Mereka mendaftarkan 147 orang pada Mechanical Turk untuk menguji bagaimana reaksi manusia berubah ketika berurusan dengan manusia atau AI.

Skenario tersebut melibatkan beragam pengaruh, termasuk pembentukan kepercayaan, perbedaan contoh, dan kolaborasi stigmergik. Hal ini ternyata menjadi sebulah masalah tersendiri. Sebagai contoh,  seorang dokter memiliki sumpah untuk menutupi banyak hal dari pasien demi kebaikan pasien tersebut, tetapi bagaimana dengan AI untuk kebutuhan medis yang berusaha menutupi informasi tersebut?

Masih ada banyak hal lagi yang dipaparkan dalam tulisannya, tetapi permasalahan yang paling utama adalah banyak orang setuju untuk membohongi AI dan juga tidak mempermasalahkan ketika dibohongi oleh AI. Sebaliknya, banyak pula orang yang tidak setuju akan hal tersebut. Bagaimana seorang pengembang AI dapat membuat model  dengan kondisi demikian?

KONSEKUENSI TEKNOLOGI

Teknologi baru selalu hadir dengan masalah yang tidak terduga. Pada tahun 1800-an, jembatan dengan jalur kereta dari besi di atasnya diakui sebagai sebuah keajaiban modern, sampai  terjadi peristiwa di mana jembatan tersebut mulai ambruk, menjatuhkan kereta yang bermuatan manusia, hingga mengakibatkan kematian yang tragis. Siapa yang menyangka besi tersebut mencapai batasnya? Sampai hari ini, insinyur dari Kanada, membuat cincin besi dari material jembatan yang ambruk tersebut untuk mengingatkan bahwa ada hidup manusia yang bergantung dari hasil pekerjaan mereka.

Dibandingkan teknik sipil, pembuatan perangkat lunak tentunya memiliki ilmu yang lebih lengkap dan hebat. Saat ini kita dapat merayakan masa berjaya nya AI, sebelum terjadi hal-hal buruknya.

Untuk jenis pekerjaan di mana kerja sama tim antara AI dan manusia dibutuhkan, kami menemukan bahwa dibutuhkan pelatihan lebih lanjut, sama seperti melatih anjing polisi dengan pawangnya. AI tidak membutuhkan kepercayaan, berbeda dengan manusia yang perlu percaya.

Masyarakat juga perlu mempercayai AI. Melihat dari pengalaman beberapa perusahaan teknologi yang sering salah langkah sekalipun sudah memiliki niat yang lurus, tidak mudah untuk memenangkan sebuah kepercayaan. Sama halnya seperti dokter, akan ada saat di mana kebohongan sebuah AI terhadap manusia dianggap menjadi suatu hal yang wajar.

Mari berharap bahwa perusahaan AI akan berusaha untuk mendapatkan kepercayaan lebih baik dibandingkan yang telah dilakukan oleh Facebook dan Uber. Hal ini dapat dimulai dari pemodelan dengan manusia yang terlibat dengan serius. (sumber:Zdnet.com)

Comments
Write Comment