Teknologi

Artificial Intelligence dan Blockchain: 3 Keuntungan Besar Menggabungkan Keduanya

By Bernard Marr07 Maret 2018 7 Mins Read
150 0

Kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence, AI), secara sederhana merupakan teori dan pembuatan mesin yang dapat menjalankan tugas-tugas yang memerlukan pemikiran. Saat ini, kemudahan teknologi berusaha membuat hal ini terwujud termasuk mesin yang dapat belajar, jaringan saraf buatan dan pembelajaran secara mendalam.

Blockchain merupakan jenis filing system baru untuk data bersifat digital, yang menyimpan data dalam format yang terenkripsi, menyebar, dan besar. Dikarenakan data terenkripsi dan tersebar ke banyak computer, maka blockchain dapat menciptakan suatu data yang tahan kerusakan dan kuat yang hanya dapat dibaca dan diubah oleh mereka yang memiliki izin khusus.

Meskipun telah banyak yang membahas mengenai potensi terkait penggabungkan kedua hal tersebut (blockchain dan AI) secara akademis, namun dalam kenyataannya penggunaanya sangat jarang. Namun kita berharap situasi ini akan berubah di masa mendatang.

 

Berikut alasan mengapa AI dan blockchain harus digabungkan

  1. AI dan enkripsi bekerja bersama

    Data dengan teknologi blockchain secara otomatis sudah sangat aman berkat cryptography yang melekat pada filing system. Maka dari itu, blockchain sangat ideal jika digunakan untuk enyimpan data yang sangat sensitif dan bersifat pribadi yang ketika diproses dapat menghasilkan hasil yang sangat bernilai dan berguna bagi kehidupan kita. Contohnya, sistem layanan kesehatan dapat dengan akurat menentukan jenis penyakit yang diderita pasien berdasarkan rekaman medis pasien, atau yang lebih sederhana adalah rekomendasi barang yang kita beli pada Amazon atau film yang akan kita tonton selanjutnya pada Netflix.

    Tentu saja, data yang disimpan dengan teknologi blockchain bersifat personal. Bisnis pada bidang ini memerlukan biaya yang tinggi untuk membuat standar keamanan yang tinggi. Karena jika berhasil ditembus, maka kita dapat kehilangan data secara besar-besaran.

    Informasi pada database blockchain tersimpan secara terenkripsi. Artinya, kunci pribadi – berupa data berukuran kecil – harus benar-benar disimpan agar pecahan-pecahan data tersimpan dengan aman.

    AI juga memiliki banyak keunggulan dalam hal keamanan. AI terkonsentrasi dalam membangun algoritma yang dapat bekerja (memproses, atau mengoperasikan) dengan data yang masih dalam keadaan terenkripsi. Salah satunya adalah menampilkan data yang tidak terenkripsi sebagai resiko keamanan sehingga dapat ditanggulangi.

  2. Blockchain dapat melacak, memahami, dan menjelaskan kepitusan yang dibuat oleh AI

    Keputusan yang diambil oleh AI terkadang sulit untuk dimengerti oleh manusia. Hal ini dikarenakan AI mampu mengolah banyak variable secara bersanaan dan “mempelajari” yang penting terkait dengan tugas yang akan dijalankan.

    Contohnya, algoritma AI diharapkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan apakah transaksi fiktif harus diblokir atau diinvestigasi.

    Terkadang, keputusan tersebut perlu diperiksa untuk keakuratannya. Juga memberikan data dalam jumlah besar dapat menjadi tugas yang sulit. Walmart, contohnya, memasukkan data transaksi selama satu bulan dari seluruh toko-tokonya ke dalam sistem AI agar dapat memutuskan produk apa yang akan ke dalam stok dan untuk took yang mana.

    Jika keputusan tersebut direkam, dengan basis datapoint-by-datapoint, menggunakan blockchain, akan memudahkan proses pemeriksaan dengan asumsi tidak terjadi perubahan selama proses perekaman hingga pemeriksaan.

    Jika publik tidak percaya kepada AI, maka percuma saja membeberkan keunggulan AI, yang mana kegunaannya pada akhirnya akan terbatas. Perekaman proses pengambilan keputusan dengan blockchain dapat menjadi langah untuk menunjukkan transparansi dan memahami pola pikir robot yang nantinya dapat meningkatkan kepercayaan publik.

  3. AI bisa mengoperasikan blockchain dengan lebih efisien dibandingkan manusia (atau komputer konvensional yang “bodoh”)

    Pada dasarnya, komputer lebih cepat namun sangat terbatas. Tanpa perintah jelas untuk mengerjakan suatu tugas, maka komputer tidak dapat menyelesaikan tugas tersebut. Dengan demikian, mengoperasikan data terenkripsi blockchain pada komputer “bodoh” memerlukan tenaga yang besar. Seperti contohnya, algoritma yang digunakan untuk menambang Bitcoin menggunakan “cara paksa” – mencoba segala jenis kombinasi karakter hingga menemukan suatu kombinasi yang dapat digunakan untuk memverifikasi transaksi tersebut.

    AI merupakan salah satu cara untuk pindah dari cara paksa tersebut dan mengolah tugas secara lebih pintar dan bermartabat. Anggaplah seorang ahli sedang memecahkan kode, jika ia bagus, maka ia akan menjadi lebih baik dan lebih efisien dalam memecahkan kode sepanjang karirnya. Maka, mesin tersebut akan bekerja seperti itu.

    Akhirnya, blockchain dan AI merupakan teknologi terbaru yang memiliki potensi yang revolusioner jika digunakan bersamaan. Keduanya menyajikan peningkatan kapabilitas satu sama lain dan secara bersamaan menawarkan kesempatan untuk pengawasan dan akuntabilitas yang lebih baik.

 

Sumber: forbes.com

Comments
Write Comment