Teknologi

Dapatkah Artificial Intelligence (AI) Menjadi Influencer Terhebat?

By Forbes Agency Council19 Februari 2018 6 Mins Read
129 0

Kita hidup di dalam dunia yang semakin gila di mana sebuah robot baru saja diberikan kewarganegaraan untuk pertama kalinya. Negara tersebut adalah Arab Saudi dan pencipta robot tersebut lebih mengerikan dari robotnya sendiri. Sulit bagi kita untuk mengabaikan fakta bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) berevolusi dengan cepat dan mulai tidak dapat terpisahkan dalam berbagai aspek kehidupan kita.

Beriklan melalui media online sudah banyak melibatkan komputer dalam hal pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan sejumlah besar data yang tidak dapat diproses pikiran manusia. Apakah pemasaran dengan influencer yang jarang menggunakan otomasi juga sedang bergerak ke arah sana?

Otomasi akan mempersingkat proses kampanye influencer. Menurut penelitian dari Forbes, rata-rata kampanye influencer membutuhkan lebih dari 30 hari riset dan 84 email untuk mengaktivasi seorang influencer. Kemudian, masih diperlukan pengawasan dan aktivitas berulang untuk melihat kapan post tersebut sudah naik. Setelah melewati bertahun-tahun, akan segera hadir inovasi bagaimana mengotomatisasi jangkauan dan pengukuran suatu kampanye dengan memanfaatkan AI.

Estelle Yafi, Project Director dari Fabernovel, memberikan pertanyaan yang bagus , “Ide menggunakan influencer akan selalu ada, namun pertanyaannya adalah: siapakah yang selanjutnya akan menjadi influencer? Apakah masih akan menggunakan selebriti dan orang biasa? Ataukah kita akan mulai melihat robot sebagai penggantinya?”. Hal ini bicara lebih dari sekedar konteks penggunaan antarmuka AI untuk memilih influencer mana yang hendak digunakan.

Danielle Yanai, co-founder dan CEO dari platform audience intelligence Spree mengatakan bahwa AI dan machine learning sudah sangat memengaruhi pemasaran dengan influencer. “Kami dapat mengembangkan kemampuannya dengan algoritma untuk membuat prediksi mengenai pesan seperti apa yang akan memengaruhi orang-orang tertentu, bahkan dapat memberi saran kepada influencer mengenai topik mana yang paling banyak diperhatikan”

Di masa yang akan datang, pemasaran dengan influencer akan berkembang menjadi pemasaran dengan melibatkan emosi, di mana emosi tertentu dipicu melalui pengalaman sensorik. Hal ini mungkin terdengar tidak masuk akal, namun pikirkan kembali apakah Tinder tidak tertarik untuk mengetahui kapan Anda mendengarkan lagu patah hati dan Haagen Dazs tidak berusaha untuk mencari tahu kapan Anda sedang bersedih.

Melibatkan Emosi

Iklan Duracell pada tahun 2015 dengan bintang NFL, Derrick Coleman merupakan contoh yang tepat dari kerja sama sebuah merek dengan influencer dalam melibatkan emosi. Coleman yang merupakan seorang tuna rungu, menggunakan baterai Duracell sebagai sumber tenaga untuk alat bantu pendengarannya. Suara Coleman yang berkata, “Mereka tidak memanggil nama saya. Mereka memberi tahu bahwa saya segalanya sudah berakhir. Namun saya sudah tidak bisa mendengar sejak umur 3 (tiga) tahun, sehingga saya tidak memedulikannya,” cukup untuk membuat semua orang merinding. Setiap orang  yang melihat baterai Duracell akan teringat dengan kalimat tersebut.

Yafi mengatakan bahwa, “Influencer sudah menggunakan pemasaran yang melibatkan emosi dengan memamerkan kehidupan dan ketertarikan mereka. Kuncinya adalah menciptakan hubungan yang unik melalui keaslian dan ikatan dengan orang-orang.”

Pertanyaannya apakah AI benar-benar dapat menciptakan hubungan semacam ini. Film “Her” menampilkan kisah seorang manusia yang jatuh cinta dengan komputer. Apakah suatu saat kita dapat benar-benar menciptakan hubungan seperti itu di dunia nyata?

Omri Yoffe, pendiri  dari Vi, seorang personal trainer AI untuk kesehatan dan kebugaran berpendapat bahwa hal itu mungkin terjadi. “Misi utama kami adalah mendemokratisasi kebugaran pribadi dan pelatihan kesehatan menggunakan AI dan teknologi suara, tetapi kemudian kami menyadari ada satu kunci utama, yakni aspek emosional manusia. Suara Vi dihasilkan oleh suara manusia dengan memanfaatkan teknologi untuk menyatukan berbagai tipe suara yang berbeda menjadi sebuah kalimat lengkap dengan fasih. Semua itu bermula dari gagasan bahwa AI tidak akan dan tidak boleh menggantikan manusia, tetapi teknologi harusnya menjadi alat untuk dapat menghasilkan pengalaman emosional bagi penggunanya.”

Hubungan yang Lebih Kuat

Menggunakan robot yang mengenali pelanggan dengan baik, apa yang mereka suka atau tidak suka, bagaimana suasana hati mereka di hari tertentu, merupakan hal yang sangat berpengaruh untuk memasarkan sebuah merek. Hal tersebut memungkinkan sebuah merek untuk mendorong  produk dan pengalaman yang paling tepat  pada waktu yang tepat pula.

Teknologi sensorik seperti pengenal suara dapat memberikan dampak yang signifikan. Bayangkan apabila Alexa dan Siri mendengarkan percakapan Anda untuk memastikan induk perusahaan mereka mengetahui apa  yang harus dijual kepada Anda dan kapan waktu yang tepat. Perubahan cara bicara dapat  menciptakan personalisasi dan penyesuaian untuk komunikasi pemasaran dan bantuan pelanggan, yang diyakini dapat membangun hubungan yang penuh arti antara manusia dengan suara tersebut. Suatu hal yang alamiah ketika manusia akan mempercayai suara yang melibatkan emosi positif.

Apakah Anda berpihak dengan Elon Musk yang melihat bahwa AI merupakan ancaman bagi umat manusia (dan kita harus melarikan diri ke Mars), atau Anda mendukung AI seperti Mark Zuckerberg (yang memiliki pelayan AI bernama Jarvis), satu hal yang pasti: teknologi ini mampu merevolusi pemasaran dengan influencer.

 

Sumber : Forbes.com

Comments
Write Comment