Bisnis

Open Banking Adalah Ujian Kepercayaan Bagi Perusahaan Keuangan: Apa Usaha Kreditur untuk Memenangkan Kepercayaan Pelanggan

By Mark Curran07 Maret 2018 4 Mins Read
105 0

Open Banking merupakan inisiatif baru yang mengancam peraturan perbankan, memiliki kekuatan untuk merevolusi bagaimana orang mengelola uang mereka.

Untuk pertama kalinya, pelanggan dapat memberikan akses data keuangan mereka kepada perusahaan, membuka diri terhadap persaingan baru dan memberikan lebih banyak lagi pilihan, nilai dan kepercayaan diri.

Cakupan terkini berfokus pada implikasi bagi pelanggan, namun hal itu tidak kurang berarti bagi industri perbankan. Bagi bank-bank yang model bisnisnya dibangun di seputar sistem tertutup dimana nilai data pelanggan dipegang oleh mereka sendiri, open banking berpotensi mengurangi kendali di pasar mereka.

Itu bisa menjadi berita bagus bagi fintech dan perusahaan teknologi lainnya. Data adalah bahan bakar yang akan memberi kekuatan pada mesin teknologi dan open banking. Mereka bisa menjadi titik yang menjanjikan untuk investor dan pelanggan potensial mereka.

Persamaan dengan industri lain yang telah diubah oleh teknologi berbasis data pelanggan baru mungkin terlihat jelas. Contoh seperti Uber, CrowdCube atau DueDil menawarkan potensi sekilas mengenai masa depan untuk open banking, namun ada satu perbedaan besar: konsumen senang berbagi informasi tentang selera musik mereka, atau memberikan nomor ponsel dan rincian pembayarannya kepada Uber. Tapi apakah mereka akan memberikan akses - meskipun di lingkungan yang terkendali - untuk data keuangan mereka?

Penelitian baru yang ditugaskan oleh CYBG menunjukkan bahwa konsumen memerlukan beberapa arahan. 77% orang mengatakan bahwa saat ini mereka tidak mungkin menggunakan layanan open banking dan lebih dari setengahnya menekankan masalah keamanan data dan masalah privasi. Konsumen juga tiga kali lebih mungkin untuk mempercayai bank mereka dengan data keuangan mereka daripada penyedia non-bank, hampir separuh konsumen mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mempercayai perusahaan teknologi pihak ketiga.

Masalah data dan privasi tidaklah mengejutkan. Tapi yang bisa kita amati di sini adalah jika open banking sukses, bank akan memainkan peran penting dalam menangani masalah tersebut. Sebenarnya, ini mungkin ujian kepercayaan terbesar di industri perbankan sejak krisis keuangan.

Keyakina terhadap bank mungkin telah mengalami hantaman selama krisis, namun, menurut survei konsumen konsumer global EY, sekitar 95% konsumen terus mempercayai penyedia utama bank mereka. Tugas utama bank adalah menjadi wadah yang aman dan terjamin untuk uang pelanggan dan kepercayaan pada kemampuan tersebut.

Dengan latar belakang tersebut, kekhawatiran pelanggan tentang bagaimana rezim open banking yang baru akan bekerja, apa yang dapat mereka lakukan dan tidak dapat dilakukan - mempercayai data mereka, dan siapa yang akan memperbaiki keadaan jika terjadi kesalahan, semua mengarah pada satu jawaban yang jelas yakni bank.

Untuk memenuhi tuntutan teknologi perbankan pribadi dan bisnis yang cepat, seperti pembayaran mobile-to-mobile, transaksi tanpa kontak dan persetujuan faktur digital, bank-bank sudah menginvestasikan sumber daya yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam keamanan dan pemantauan di pasar yang sudah sangat diatur. Seiring dengan keadaan pelanggan yang dilema dengan open banking, potensi keuntungan yang besar bertentangan dengan kekhawatiran mereka tentang keamanan.

 

Sumber: cityam.com

Comments
Write Comment