Strategi

Startup Ini Ingin Singkirkan Mobil di Indonesia

By Lulu Faras16 April 2018 4 Mins Read
11 0

OFiSKITA – Beberapa tahun yang lalu kita tidak mengenal istilah bike-sharing. Saat ini bike-sharing menjadi salah satu kategori yang paling banyak diperebutkan dalam ekonomi on-demand. Kembali ke tahun 2012, Anugrah Nurrewa dan rekan-rekan bersepedanya diminta oleh komunitas lokal Bandung untuk memimpin proyek percontohan bike-sharing. Namun mereka menghadapi satu kendala.

“Kami tidak tahu apa itu ke-sharing dan apa tujuannya,” kata Nurrewa.

Terlepas dari kurangnya pemahaman Nurrewa dan rekan-rekannya terhadap bike-sharing, mereka tetap mencoba meski proyek tersebut tidak berjalan seperti yang direncanakan, dan hal itu mengubah Nurrewa. Setelah lebih banyak memikirkan situasi transportasi di Bandung dan Indonesia secara keseluruhan, ia memilih untuk mempelajari perencanaan transportasi lebih dalam di perguruan tinggi. Setelah lulus, Nurrewa mendirikan Banopolis, sebuah startup solusi perkotaan dan transportasi berbasis teknologi.

Mengubah pola pikir

Menurut Nurrewa, pasar negara berkembang seperti Indonesia menghadapi masalah transportasi perkotaan sebagai akibat dari motorisasi yang cepat. Seiring pertumbuhan penduduk, warga beralih menggunakan kendaraan pribadi daripada transportasi umum karena kurangnya infrastruktur umum di Indonesia.

Banopolis ingin mendorong orang Indonesia untuk menghentikan ketergantungan mereka terhadap mobil pribadi dan kembali memilih transportasi umum atau solusi lain seperti bike-sharing.

Nurrewa mengatakan bahwa mereka berusaha mengubah pola pikir orang Indonesia dengan membuat aplikasi antarmuka pengguna yang terlokalisir ke komunitas. Maksudnya daripada mengembangkan sistem startup yang sama ke berbagai daerah, Banopolis lebih memilih mengembangkan sistem sepeda unik untuk komunitas.

Pada tahun 2017, Banopolis mulai bekerja sama dengan Pemda Bandung untuk membuat rencana induk dan desain untuk sistem yang mencakup 30 shelter dan 270 unit sepeda. Sekarang sistem tersebut memiliki 4.000 pengguna terdaftar, yang seribu di antaranya rutin menggunakannya tiap bulan.

Menargetkan pengguna angkutan umum

Nurrewa mengatakan bahwa target pasarnya adalah pengguna angkutan umum yang kebanyakan bukan pengendara sepeda. Langkah selanjutnya, sistem ini akan memkampanyekan peralihan kendaraan pribadi ke transportasi umum dan bike-sharing.

Sampai sekarang, Banopolis masih berupa startup B2B. Untuk proyek berikutnya, Banopolis akan bekerja sama dengan Universitas Indonesia dalam meningkatkan sistemnya. Untuk bagian lain dari proyek ini, Spekun oleh Bik, Banopolis akan menyediakan sepeda generasi berikutnya yang masing-masing didukung oleh konektivitas IoT narrowband yang dipasok oleh perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia sebagai upaya untuk meningkatkan penggunaan bike-sharing di kampus.

Selama fase pertama Spekun oleh Bik, Banopolis menyediakan 200 unit sepeda pintar untuk Universitas Indonesia.

Fase ini sejajar dengan perubahan bertahap lainnya yang ingin dibuat oleh startup solusi perkotaan dan transportasi berbasis teknologi ini. Nurrewa mengatakan bahwa Banopolis akan secara aktif mencari investor dan mitra untuk tranformasinya dari penyedia B2B murni ke B2C. (sumber: Ezra Ferraz/inc-asean.com)

Comments
Write Comment