Insight

AI Cegah Upaya Penipuan Fintech

By Tim Editor04 Desember 2019 2 Mins Read
55 0

Gambar: Pixabay

OFiSKITA - Financial technology dinilai membawa perubahan positif bagi iklim pendanaan di Indonesia, dimana masyarakat tidak lagi hanya bergantung kepada bank. Proses yang mudah umumnya alasan mengapa fintech lebih disukai orang. Namun kita juga harus realistis bahwa akan selalu ada celah untuk melakukan kejahatan finansial. Penipuan identitas misalnya. Ini marak terjadi dimana orang memberikan identitas KTP atau NIK palsu demi mendapatkan sejumlah besar dana, untuk kemudian menghilang tanpa diketahui keberadaannya. Apalagi bila fintech yang dimaksud tidak memiliki akses untuk meng-cross chek identitas calon peminjam dengan data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. 

Chief Operating Officer and Co-founder Advance.AI. Dong Shou mengungkapkan kekhawatiran tersebut sambil juga menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk mengantisipasinya adalah dengan menerapkan face recognition dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence. Metode pengecekan lain yang lebih kovensional juga masih bisa dilakukan, yaitu dengan memeriksa latar belakang calon peminjam.  

Industri teknologi finansial sejatinya memiliki peluang untuk terus tumbuh secara inklusif, asalkan teknologinya terus diperkuat agar dapat diterima oleh konsumen lokal. Paling tidak Tongdun Technology dan Cashwagon sependapat bahwa teknologi kecerdasan buatan AI dan Big Data dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah keuangan secara inklusif, menemukan aplikasi mencurigakan yang dilakukan sindikat untuk menipu. Pemerintah dan kepolisian pun harus bersinergi untuk menumpas para pencuri identitas yang hanya mengincar keuntungan pribadi. 

Ruang bagi pendanaan digital atau fintech memang kian luas, merujuk pada data yang dirilis oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK) per September 2019, akumulasi penyaluran pinjaman P2P lending mencapai Rp 60,40 triliun. Angka penyaluran ini naik 166,51 persen secara year to date (ytd) dibandingkan Desember 2018 yang sebesar Rp 22,66 triliun.

Tongdun Technology sendiri melalui Co-foundernya, Jackal Mal, menyatakan masuk ke Indonesia dengan dua fokus, yaitu menawarkan teknologi kecerdasan buatan dan Big Data untuk menyelesaikan masalah keuangan secara inklusif, serta dan menggunakan teknologi untuk mencegah penipuan di internet. Sementara CEO PT Kas Wagon Indonesia (Cashwagon), Asri Anjarsari menyatakan akan terus melindungi pelanggan mereka dan bekerja sama dengan polisi cyber crime untuk memastikan keamanan pengembangan industri fintech.

Sumber: liputan6.com; wartaekonomi.co.id; teknologi.bisnis.com

Related Articles
Insight

Milenial yang Jeli Melihat Peluang Bisnis

By Tim Editor30 Juni 2020 3 Mins Read
Insight

Strategi Menghadapi Risiko Bisnis Di Masa New Normal

By Astragraphia Xprins Indonesia29 Juni 2020 3 Mins Read
Insight

PointQoe, Loyalty Program Sebagai Bonus Bagi Pelanggan B2B AXIQoe

By Astragraphia Xprins Indonesia26 Juni 2020 3 Mins Read
Insight

Makanan Kemasan Dapur Cihuuy yang Se-Cihuy Namanya

By Tim Editor18 Juni 2020 3 Mins Read
Insight

Tren Public Relation Tahun Ini dan Seterusnya

By Tim Editor15 Juni 2020 3 Mins Read
Insight

Prosedur Pengadaan Barang Dan Jasa Di Masa PSBB

By AXIQoe18 Mei 2020 3 Mins Read
Comments
Write Comment