Insight

Akuakultur Indonesia Menuju Digital

By Tim Editor19 September 2019 2 Mins Read
9 0

Gambar: Unsplash

OFiSKITA – Teknologi tak hanya dapat membantu dunia telekomunikasi, Indonesia juga memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan potensi besar akuakultur untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu negara akuakultur terbesar di dunia. Sektor akuakultur Indonesia mengalami pertumbuhan yang kuat selama beberapa dekade terakhir dengan 6,2 juta ton persegi pada 2017. Hal ini menempatkan Indonesia di peringkat ketiga setelah Cina dan India. 

Food and Agriculture Organisation (FAO) PBB melaporkan bahwa sektor perikanan Indonesia tumbuh sekitar 34% dari 2008 hingga 2017 dan sektor akuakulturnya meningkat sebesar 264%.

Setidaknya terdapat 3,3 juta orang bekerja di sektor akuakultur di Indonesia, tapi 80%  dari produsen ikan dan 70% dari produsen udang masih merupakan petani kecil yang menggunakan metode manual. Akuakultur diharapkan dapat menyumbang dua pertiga konsumsi pangan global pada tahun 2030, dengan teknologi yang efektif seperti Internet of Things (IoT) dapat membantu menjaga keberlanjutan dan pertumbuhan industri ini. 

Meskipun Indonesia memiliki sekitar 26 juta hektar lahan pantai yang cocok untuk budidaya, banyak diantaranya merupakan hutan bakau dan habitat terumbu karang. Selain memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi dan memainkan peran penting dalam ketahanan perubahan iklim, lahan pesisir ini merupakan ekosistem penting untuk sektor ekonomi seperti perikanan dan pariwisata. 

Sebenarnya, Indonesia sudah memiliki eFishery, startup fishtech pertama yang memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) yang membantu petani untuk mendapatkan hasil maksimal dari peternakan ikan mereka. Didirikan pada tahun 2013, eFishery menyediakan sistem pemberian pakan otomatis IoT yang memungkinkan petani untuk memantau dan menjadwalkan waktu pemberian makanan. Sensor berbasis getaran dikombinasikan dengan machine learning ini mendeteksi dan menentukan nafsu makan ikan untuk menghindari pemberian makan berlebih dan melepaskan jumlah pakan yang tepat.

Pemberian makan ikan menyumbang 60 hingga 90 persen dari total biaya produksi dalam akuakultur.

Selain eFishery, Indonesia juga memiliki Aruna, yang berfungsi sebagai platform e-commerce untuk petani yang memungkinkan mereka untuk menjual produk mereka secara grosir, ada juga platform penggalangan dana dan platform pinjaman peer-to-peer (P2P) seperti Growpal dan IWAK untuk menarik investor.

Dengan rekam jejak yang kuat sebagai eksportir utama ke pasar global, digitalisasi akuakultur Indonesia akan memiliki peran penting memenuhi kebutuhan pangan ASEAN dan sekitarnya.

Sumber: The Asean Post

Related Articles
Insight

Perusahaan Digital Raup Pasar Syariah

By Tim Editor18 November 2019 2 Mins Read
Insight

Produk Halal Bakal Kuasai Pasar Indonesia

By Tim Editor11 November 2019 3 Mins Read
Insight

Mei 2020 Grab Akan Jalankan Bisnis Bank Digital

By Tim Editor07 November 2019 2 Mins Read
Insight

Pertimbangan Startup Tahap Awal Dalam Melakukan Rekrutmen

By Tim Editor07 November 2019 3 Mins Read
Insight

Bisnis B2B Belum Sepenuhnya Berbasis Data

By Tim Editor01 November 2019 2 Mins Read
Insight

Jangan Salah Pilih Antara Influencer dengan Key Opinion Leader

By Tim Editor31 Oktober 2019 2 Mins Read
Insight

Gerai-Gerai Kecil Mulai Geser Departement Store

By Tim Editor01 November 2019 2 Mins Read
Insight

Adu Nyali Para Penantang Gojek & Grab

By Tim Editor31 Oktober 2019 2 Mins Read
Insight

8 Perusahaan Investor Ternama Langganan Start Up di Indonesia

By SpotQoe30 Oktober 2019 4 Mins Read
Comments
Write Comment