Insight

Angka Penipuan Online Melejit Selama Pandemi

By Tim Editor23 Maret 2021 3 Mins Read
17 0

Gambar: Pixabay

OFiSKITA - Meningkatnya transaksi online yang terjadi selama pandemi Covid-19 juga meningkatkan risiko terjadinya penipuan siber. Berbagai macam metode penipuan dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Dikutip dari katadata.co.id, bahwa Januari-September 2020 lalu Dittipidsiber Bareskrim Polri menerima 649 laporan penipuan kejahatan siber. Pandemi memang telah mengubah perilaku masyarakat Indonesia menjadi pengguna aktif internet, namun sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan literasi mengenai cara beraktivitas maupun bertransaksi online dengan aman. Berdasarkan Data Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, situasi pandemi membuat penggunaan internet meningkat hingga 40%, dan akses yang biasanya didominasi dari kawasan perkantoran kini didominasi dari kawasan pemukiman.

BACA JUGA: Tren Fesyen Perhotelan Selama dan Pasca Pandemi

Metode penipuan yang terjadi di masyarakat pun beragam, mulai dari meng-kloning nama kontak di smartphone korban dan meminta pinjaman uang, hingga mengatasnamakan lembaga tertentu yang meminta PIN & data diri korban. Secara global, The International Criminal Police (Interpol) mencatat 907 ribu pesan sampah, 737 serangan malware, dan 48 ribu uniform resource locator (URL) berbahaya yang berkaitan dengan Covid-19.

Jumlah kasus terbanyak selama pandemi adalah phising (penipuan dengan tautan palsu untuk mencuri data pengguna) sebesar 59%. Lembaga ini mencatat bahwa pada semester 1 tahun lalu, Indonesia merupakan target phising tertinggi di Asia Tenggara. Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional (Pusopskamsinas) Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 88.414.296 serangan siber sejak 1 Januari-12 April 2020. Puncaknya terjadi pada 12 Maret 2020 yang mencapai 3.344.470 serangan per hari. Menurut data International Telecommunication Union, lebih dari 90% negara kurang memperhatikan pentingnya keamanan siber, termasuk Indonesia. Laporan Global Cybersecurity Index 2018 bahkan memposisikan Indonesia di peringkat ke-41 dari 175 negara yang masih jauh dari keamanan siber.

BACA JUGA: Laris Manis Mobil Bekas

Sebagai langkah pencegahan penipuan, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan, diantaranya:

1. Melakukan transaksi melalui platform yang sudah terpercaya. Biasanya uang yang sudah Anda transfer tidak akan langsung masuk ke rekening penjual, sehingga jika dalam kurun waktu tertentu tidak ada konfirmasi maupun pengiriman barang oleh penjual, uang Anda masih bisa kembali dengan utuh. 

2. Jika Anda melakukan transaksi bukan melalui platform yang terpercaya, maka Anda bisa memeriksa terlebih dahulu nomor rekening yang penjual berikan dengan cara:

  • Masuk ke laman cekrekening.id, kemudian ketikkan nama bank dan nomor rekening penjual. 

  • Pada laman tersebut akan muncul hasil rekam jejak rekening. Jika muncul rekam jejak bahwa nomor rekening tersebut pernah dilaporkan, maka sebaiknya Anda urungkan niat untuk belanja di toko online tersebut.

3. Jangan pernah memberikan informasi pribadi seperti nomor rekening, nomor kartu ATM, nomor PIN, kode OTP, password, dan nama ibu kandung. 

Sumber: Katadata.co.id; Kompas.com; infokomputer.grid.id

Related Articles
Insight

Perubahan Pada Bisnis B2B Setelah Adanya Pandemi

By Tim Editor24 Maret 2021 4 Mins Read
Insight

Kelola Dokumen Legal dengan Solusi Cerdas Smart Office Package

By Tim Editor09 Maret 2021 3 Mins Read
Insight

Memahami Pentingnya Customer Journey Map

By Tim Editor05 Maret 2021 4 Mins Read
Insight

Merancang Email Marketing yang Agile

By Tim Editor04 Maret 2021 4 Mins Read
Insight

8 Langkah Membuat Marketing Plan

By Tim Editor03 Maret 2021 4 Mins Read
Insight

Tren Fesyen & Perhotelan Selama dan Pasca Pandemi

By Tim Editor26 Februari 2021 7 Mins Read
Insight

Prediksi Tren Big Data 2021/2022

By Tim Editor18 Februari 2021 3 Mins Read
Insight

Pendatang Baru di Bisnis Pesan-Antar Makanan

By Tim Editor15 Februari 2021 2 Mins Read
Comments
Write Comment