Insight

Bagaimana Nasib Blockchain di Indonesia?

By Tim Editor29 Juli 2019 2 Mins Read
47 0

Gambar: Pixabay

OFiSKITA – Ketika blockchain dan cryptocurrency pertama kali menjadi tren, banyak yang melihatnya sebagai pengganggu tatanan keuangan saat ini. Ini karena transaksi yang menggunakan cryptocurrency menghilangkan kebutuhan tradisional  bank dan lembaga keuangan lainnya. Tidak seperti bank dan sistem keuangan saat ini, cryptocurrency didukung oleh sistem yang disebut blockchain dengan ledger yang terdesentralisasi, dimana setiap transaksi dicatat. Di sisi lain, teknologi cryptocurrency dan blockchain banyak dipuji karena keamanannya.

Indonesia memang diakui berada di garis depan pengimplementasian blockchain. Bahkan, Indonesia dinilai sebagai negara pertama di kawasan Asia Pasifik yang secara aktif memanfaatkan teknologi blockchain. Pada Januari 2018, Bank Indonesia (BI) mengumumkan rencana untuk meluncurkan mata uang digital yang didukung oleh teknologi blockchain. Hal ini diikuti sebagian bank besar di Indonesia seperti Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Danamon dan Bank Permata.

Menurut Bank Dunia, Indonesia berada di peringkat ke-14 di dunia untuk penerimaan remitan, dengan perkiraan USD10,5 miliar. Remitansi adalah transfer uang oleh seorang pekerja migran ke seseorang di negara asalnya. Dengan teknologi blockchain, pendapatan remitan Indonesia membengkak karena blockchain menghilangkan kebutuhan akan pihak perantara, sehingga memungkinkan transfer dana yang efisien dan gratis.

Blockchain juga dapat membantu mengembangkan industri musik, yang merupakan salah satu dari 16 sektor ekonomi kreatif dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Awal bulan April, Badan Ekonomi Kreatif Indonesia mengungkapkan rencana untuk menggunakan teknologi blockchain untuk melindungi hak cipta dengan membantu musisi untuk melacak dan memantau unduhan, dan menghitung royalti yang terhutang. 

Indonesia juga dikenal merupakan negara dengan banyak UMKM. Banyak perusahaan kecil di Indonesia tidak dapat menggunakan mekanisme pembayaran digital karena tingginya biaya yang ditetapkan oleh perusahaan kartu kredit atau bank. Blockchain memberi perusahaan alternatif yang lebih murah.

Dengan dukungan dari bank sentral dan dengan lebih banyak perusahaan merangkul blockchain, tidak mengherankan bahwa lebih banyak perusahaan atau inisiatif spesifik blockchain sedang dibentuk di Indonesia. Contoh dari startup mengambil keuntungan dari tren blockchain adalah Blockchain Zoo. Berbasis di Bali, Blockchain Zoo adalah perusahaan pertama yang menawarkan layanan konsultasi blockchain di negara ini. 

Indonesia juga mengembangkan komunitas blockchain yang bernama Asosiasi Blockchain Indonesia, yang didirikan oleh enam perusahaan blockchain yang beroperasi di Indonesia.

Indonesia patut dipuji karena sudah dapat mengadopsi teknologi blockchain, dan tidak memandangnya sebagai gangguan atau ancaman.

Sumber: The ASEAN Post, teknologi.id
 

Related Articles
Insight

Apa Itu Cryptocurrency?

By Tim Editor09 Agustus 2021 3 Mins Read
Insight

Bikin Notulen Ngga Perlu Ketak Ketik Lagi

By Tim Editor05 Desember 2019 2 Mins Read
Insight

Big Data Berkembang Pesat di Indonesia

By Tim Editor27 November 2019 2 Mins Read
Insight

Apa Itu Mesin Plotter & Fungsi dan Kelebihannya dalam Digital Printing

By PrinterQoe20 November 2019 3 Mins Read
Insight

Cari Tahu Ini Dulu Sebelum Uji Penetrasi

By Tim Editor18 November 2019 3 Mins Read
Insight

Pikir Dua Kali Sebelum Masukan Data Pribadi Anda Ke Dunia Maya

By Tim Editor18 November 2019 3 Mins Read
Insight

Pindah ke Cloud dengan SAP S/4HANA

By Tim Editor13 November 2019 2 Mins Read
Insight

Ubah Pelanggan Anonim Menjadi Setia dengan SAP C/4HANA

By Tim Editor12 November 2019 2 Mins Read
Insight

SAP SuccessFactors, Pemimpin dalam Solusi Cloud untuk SDM

By Tim Editor12 November 2019 4 Mins Read
Comments
Write Comment