Insight

Menilik Tingkat Kecurangan E-commerce di ASEAN

By Tim Editor25 Juli 2019 2 Mins Read
119 0

Gambar: Pixabay

OFiSKITA – Menurut prediksi Google, nilai pertumbuhan pasar e-commerce di Asia Tenggara akan melampaui USD200 miliar pada tahun 2025. Hal ini didukung dengan banyaknya pemain e-commerce Lazada, Shopee, dan Tokopedia yang kerap memperluas upaya pertumbuhan mereka di wilayah tersebut. Selain itu, pertumbuhan e-commerce di Asia Tenggara juga didorong oleh tingkat penetrasi internet yang tinggi.

Dikutip dari The ASEAN Post, pada tahun 2018, setidaknya terdapat 391 juta pengguna internet di Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam. Penelitian menyebutkan negara-negara ini penyumbang terbesar e-commerce di Asia Tenggara. Namun, ada satu hal yang disayangkan; penipuan online.

Laporan AppsFlyer berjudul “Fraud Rising: How Bots and Malware Are Compromising APAC’s Apps in 2019” menemukan bahwa e-commerce menjadi lahan subur untuk penipuan berbentuk iklan. Menurut laporan AppsFlyer, kerugian akibat penipuan berbentuk iklan di Asia Tenggara menyumbang 40% di wilayah APAC, dengan yang paling terkena dampaknya Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Ketiga negara ini menjadi target karena basis pengguna yang besar akibat rendahnya kesadaran. 

AppsFlyer mengidentifikasi beberapa alasan mengapa Asia Tenggara sangat rentan terhadap penipuan online, salah satunya dikarenakan kurangnya kemampuan pengembangan aplikasi. 

Penelitian yang berjudul “Global Ecommerce Fraud Management 2019” dan “CyberSource Online Fraud Benchmark 2018” di Asia Tenggara mengidentifikasi jenis penipuan yang paling umum dalam e-commerce yaitu pencurian identitas, phishing, dan pengambilalihan akun. 

Penggunaan bot dan aktivitas hacking lainnya akan  tetap menjadi bentuk serangan paling umum yang dilakukan. Laporan CyberSource 2018 menyatakan bahwa tantangan terbesar di Asia Tenggara adalah kurangnya keahlian dan kurangnya manajemen data. AppsFlyer menjelaskan bahwa solusi untuk mengurangi dampak ini adalah strategi yang tepat, alat pendeteksi penipuan, 

Serta pendidikan literasi kepada konsumen di Asia Tenggara mengenai berbagai jenis penipuan online, dan bagaimana mereka harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi diri mereka sendiri.

Sumber: The ASEAN Post, detik.com, CNN

Related Articles
Insight

Perpu E-commerce Sudah Final, Pelaku Dagang Harap Tertib!

By Tim Editor06 Januari 2020 3 Mins Read
Insight

Sah! Investree Tanam Saham di MBiz

By Tim Editor06 Januari 2020 3 Mins Read
Insight

Business Intelligence untuk Startup di 2020, Perlu Lebih Diseriusi

By Tim Editor03 Januari 2020 2 Mins Read
Insight

Content Hack untuk E-Commerce

By Tim Editor02 Januari 2020 2 Mins Read
Insight

Wishlist Bisa Akali Penjualan yang Turun di Musim Libur

By Tim Editor27 Desember 2019 2 Mins Read
Insight

Cybercrime Ancam Fintech, Mobile Banking & e-Commerce di 2020

By Tim Editor26 Desember 2019 2 Mins Read
Insight

Rangkul Pelanggan B2B dengan Cara Berikut

By Tim Editor04 Desember 2019 2 Mins Read
Insight

Uniknya Karakteristik Ecommerce B2B Dibandingkan dengan B2C

By Tim Editor04 Desember 2019 2 Mins Read
Comments
Write Comment