Insight

Meningkatnya Fenomena Graypreneur Di dalam Dunia Usaha

By Tim Editor29 Maret 2019 2 Mins Read
27 0

Gambar: Pixabay

OFiSKITA - Fenomena graypreneur muncul di tengah maraknya pengusaha-pengusaha muda usia. Meningkatnya orang-orang lanjut usia yang memulai bisnis mereka sendiri, selain karena kebutuhan finansial juga didorong oleh kebutuhan akan tetap produktif. Sebuah infografik dari Nowsourcing mengungkapkan bahwa 25 persen dari tenaga kerja di Amerika akan berusia 55 tahun pada 2024 nanti. Data itu juga menunjukkan bahwa empat orang dari lima baby boomers diharapkan agar tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan finansial.

Masih menurut laporan yang sama itu, didapati bahwa  60% pekerja di atas 45 tahun mengalami atau melihat diskriminasi usia di tempat kerja. Usia akan terus menjadi kendala di dunia kerja di seluruh dunia. Contoh tidak mengenakan datang dari sebuah laporan mengenai IBM yang 'memaksa' karyawan yang sudah berusia lebih tua, untuk mengambil pensiun dini.

Maka tidak mengherankan bila kemudian generasi ini banting setir dan memilih untuk memulai bisnis kecil mereka sendiri, melakukan pekerjaan lepas dan menggunakan teknologi untuk mengoptimalkan pengalaman mereka. Usia tua justru membuat seseorang kaya akan pengalaman dan juga jaringan yang luas untuk terhubung dengan bisnis lain sehingga memberi dampak nyata pada kemajuan bisnis mereka.

Bila dicermati, fenomena greypreneur ini selaras dengan tren kewirausahaan yang terus bertumbuh dalam keberagaman, termasuk diantaranya rentang usia, selain jenis kelamin, etnis, dan pendidikan di antara pebisnis pemula. Menurut MIT, pemilik usaha/founder pemula rata-rata berusia sekitar 42 tahun. Kepemilikan bisnis minoritas juga meroket dalam beberapa tahun terakhir. Ledakan terbesar terjadi di kalangan pemilik bisnis Afrika-Amerika yang tumbuh sebesar 400% antara tahun 2017-2018.

Menyambung tentang tren kewirausahaan, masih ada beberapa poin lainnya seperti:

  • Fokus pada kesuksesan jangka panjang yang sudah tentu membutuhkan strategi untuk bisa bertahan sekaligus mengeruk keuntungan di masa depan. Pertumbuhan bisnis yang cepat sudah bukan lagi prioritas

  • Meningkatnya tanggung jawab sosial, ketika pengusaha juga menyadari bahwa bisnis yang mereka jalani juga harus mejadi manfaat sosial dan lingkungan.

  • Pasar yang segmented menjadi yang terdepan. Pada tahun 2019, pengusaha dapat memaksimalkan peluang keberhasilan mereka dengan menjual produk dan layanan khusus kepada audiens yang segmented. Menjual produk kepada target khusus lebih hemat biaya karena Anda sudah tahu siapa yang Anda tuju, sehingga tidak membuang-buang uang dan waktu untuk mempromosikan penawaran Anda di tempat yang salah dan kepada  orang yang salah.

  • Menurut ecomdash.com, beberapa segmen pasar terpanas di 2019 termasuk subsripction, peralatan untuk pelatihan interval intensitas tinggi dan perencanaan yang dipersonalisasi.

Sumber: gritdaily.com; smallbiztrends.com; quickbooks.intuit.com

Related Articles
Insight

DANA - Blue Bird Sekarang Jalan Bareng

By Tim Editor25 November 2019 2 Mins Read
Insight

Sudah Hadir! Medsos Bebas Iklan

By Tim Editor21 November 2019 3 Mins Read
Insight

Perusahaan Digital Raup Pasar Syariah

By Tim Editor18 November 2019 2 Mins Read
Insight

Produk Halal Bakal Kuasai Pasar Indonesia

By Tim Editor11 November 2019 3 Mins Read
Insight

Mei 2020 Grab Akan Jalankan Bisnis Bank Digital

By Tim Editor07 November 2019 2 Mins Read
Insight

Pertimbangan Startup Tahap Awal Dalam Melakukan Rekrutmen

By Tim Editor07 November 2019 3 Mins Read
Insight

Bisnis B2B Belum Sepenuhnya Berbasis Data

By Tim Editor01 November 2019 2 Mins Read
Insight

Jangan Salah Pilih Antara Influencer dengan Key Opinion Leader

By Tim Editor31 Oktober 2019 2 Mins Read
Insight

Gerai-Gerai Kecil Mulai Geser Departement Store

By Tim Editor01 November 2019 2 Mins Read
Insight

Adu Nyali Para Penantang Gojek & Grab

By Tim Editor31 Oktober 2019 2 Mins Read
Comments
Write Comment