Insight

Perkembangan Seni Percakapan di Era Kecerdasan Buatan

By Tim Editor31 Januari 2019 2 Mins Read
2 0

Gambar: Pixabay

OFiSKITA - Dari hari ke hari, chatbots sudah mulai mengambil alih percakapan antar manusia menjadi percakapan antara manusia dengan mesin. Seiring dengan itu, hal yang masih mengganjal berupa interaksi yang alamiah. Para pengembang asisten virtual dan bot sedang berfokus kepada bagaimana melengkapi bot dengan karakteristik serta personalisasi. Pengembang platform bantuan virtual terkemuka bergabung dengan organisasi di berbagai domain untuk mengembangkan bot yang dilengkapi dengan nada empatik, dipenuhi dengan kehangatan dan pemahaman yang tulus tentang kebutuhan dan impian pengguna, sehingga menghasilkan percakapan yang bermakna.

Tetapi keterlibatan pelanggan seperti itu tidak selamanya mulus. Apalagi menyangkut humor yang bersifat subyektif. Anda tentu tidak ingin mengambil risiko terjadinya kesalahan yang tidak perlu. Oleh karena itu, merek perlu melengkapi chatbots untuk memahami sifat percakapan masing-masing pengguna, menganalisisnya, dan kemudian melanjutkan percakapan dengan nada yang ramah dan informal. Untuk tujuan itu, pelaku bisnis harus berkolaborasi dengan pihak ketiga yang melengkapi bot dengan karakter dan selera humor yang selaras dengan citra organisasi serta gaya hiburan yang disukai oleh target audiens.

Chatbot sebagai proyek puluhan tahun

Dikutip dari techinasia.com yang menguraikan tentang asal muasal chatbot, diketahui bahwa chatbot merupakan proyek puluhan tahun yang berawal dari sebuah tes. Alan Turing, seorang matematikawan menyiptakan Touring Test yang booming pada tahun 1950. Tes itu ditujukan untuk program komputer supaya dapat bercakap-cakap dengan manusia, tanpa manusia tersebut menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan mesin.

Salah satu chatbot generasi pertama adalah ELIZA yang diciptakan oleh ilmuwan Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 1964. Dibandingkan dengan chatbot masa kini, ELIZA masih sangat sederhana. Teknologi terus berkembang hingga kemudian hadir chatbot yang lebih canggih seperti Cleverbot dan Mitsuku.

Sejak itu, chatbot sudah merambah ke kehidupan manusia seperti Siri, Cortana dan OK Google. Media sosial seperti Facebook dan LINE pun tidak ketinggalan. Di Indonesia sendiri, teknologi chatbot juga tengah mengalami perkembangan. Berbagai developer telah menyediakan perangkat lunak chatbot seperti AiChat dan Kata.ai sebagai layanan bantuan pelanggan.

Sumber: bgr.in; techinasia.com

Related Articles
Insight

Aturan Mendasar dalam Menjalin Pertemanan di Dunia Kerja

By Tim Editor14 Februari 2019 3 Mins Read
Insight

Pengembangan Perangkat Lunak yang Akan Mendominasi Di Tahun Ini

By Tim Editor14 Februari 2019 3 Mins Read
Insight

Bagaimana Menangani Keluhan Pelanggan

By PrinterQoe12 Februari 2019 2 Mins Read
Insight

Akhiri Email Anda dengan Kesan yang Baik

By PrinterQoe12 Februari 2019 2 Mins Read
Insight

Kata Sapa Apa yang Pas Dalam Penulisan Email?

By PrinterQoe12 Februari 2019 2 Mins Read
Insight

Peran Pemerintah Dibutuhkan dalam Implementasi Drone

By Tim Editor11 Februari 2019 2 Mins Read
Insight

Produk Premium untuk Membangun Brand Image

By PrinterQoe11 Februari 2019 2 Mins Read
Insight

Profesionalisme Bisa Dilihat dari Cara Menulis dan Mengirim Email

By PrinterQoe11 Februari 2019 3 Mins Read
Insight

Pompa Produktivitas dengan Memahami Ritme Tubuh

By Tim Editor08 Februari 2019 3 Mins Read
Insight

Orang Awam Perlu Tahu Beberapa Istilah Dalam Mendesain

By PrinterQoe07 Februari 2019 3 Mins Read
Comments
Write Comment