Insight

Super Apps Semakin Sukses di Asia

By Tim Editor12 November 2018 4 Mins Read
41 0

Sumber: gojek.com

OFiSKITA – Konsep ‘Super Apps' semakin populer di Asia Tenggara. Menurut laporan “The 2015 U.S. Mobile App” yang diterbitkan oleh situs Comscore, melaporkan bahwa biasanya pengguna smartphone rata-rata memiliki 26 aplikasi terpasang di ponselnya. Namun, pengguna biasanya hanya menggunakan 4-6 aplikasi per harinya. Laporan itu juga menyebutkan bahwa seseorang bisa menghabiskan 50% dari waktu yang dihabiskan dengan smartphone-nya untuk menggunakan satu aplikasi. Perilaku ini mengarah pada adopsi aplikasi yang dapat melakukan banyak hal dan menggantikan 10 aplikasi lainnya. 

Orang menyebut fenomena ini sebagai Super Apps atau Omni Apps, atau satu aplikasi untuk mengatur semuanya. 

Contoh aplikasi yang terkenal adalah WeChat asal Cina. Dengan WeChat, pengguna dapat melakukan obrolan (chatting), melakukan pemesanan dan pembayaran, bermain game, dan lainnya. Masyarakat di Cina, negara asal aplikasi ini digunakan, harus menginstal WeChat agar dapat menikmati layanan dan produk yang disediakan aplikasi mulai dari pemesanan makanan dan minuman, pembelian tiket bioskop, hingga layanan transportasi.

Fenomena Super Apps ini didukung oleh budaya cashless payment yang semakin marak berkembang. Semakin sering orang menggunakan smartphone, maka akan masuk akal bila mereka ingin melakukan pembayaran melalui piranti yang sama. 

Seperti yang dilansir Vice News, fitur Super Apps WeChat terhubung dengan berbagai rekening bank untuk melakukan transaksi online maupun di toko ritel fisik. Pengguna hanya perlu melakukan scanning menggunakan kode QR untuk melakukan pembayaran dari Super Apps. Hal ini berlaku pula pada aplikasi AliPay. 

Dominasi Go-Jek di Indonesia

Go-Jek, layanan ride-hailing asal Indonesia, mendadak menjadi Super Apps yang semakin ramai dipergunakan di Asia Tenggara dengan fitur serbaguna yang ditawarkannya seperti obrolan, media sosial, pembayaran seluler, permainan, dan banyak lagi. 

Awalnya Go-Jek hanyalah layanan yang bertujuan untuk menyediakan layanan penumpang sepeda motor (ojek), lalu berevolusi menjadi penyedia layanan multifungsi mulai dari Go Ride, Go Food, Go Glam, Go Massage, Go Send, hingga Go Tix. 

Menurut Tech in Asia, Go-Jek mengedepankan tiga faktor pembeda dengan akar bisnis pada layanan transportasi, tidak menekankan media sosial atau layanan perpesanan seperti aplikasi Line dan WeChat, dan tidak mempunyai perusahaan induk. 

Go-Jek melihat peluang besar kebutuhan masyarakat Indonesia yang bergantung pada transportasi cepat seperti ojek, yang tidak ada di lingkungan urban seperti di Amerika dan Cina. Go-Jek juga telah membuat basis pelanggan yang besar, termasuk segmen usia 35 hingga 64 tahun yang memiliki selalu menggunakan media sosial dengan smartphone. Go-jek juga tidak memiliki perusahaan induk dengan banyak investasi di sektor lain. Tencent, penyokong utama WeChat, produktif dalam layanan internet menjangkau pengguna Cina domestik dan luar negeri.

Dikutip dari katadata.co.id, menurut CEO Go-Jek Nadiem Makarim, saat ini aplikasinya telah digunakan oleh lebih dari 20 juta pengguna. Dan menurut kontan.co.id, terhitung hingga bulan Oktober 2018, 50% transaksi pada aplikasi Go-Jek telah menggunakan Gopay. Transaksi tersebut telah dilakukan untuk membayar 200.000 rekan usaha ataupun mitra Go-Jek yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Namun, Go-Jek tak sendirian. Raksasa ride-hailing Asia Tenggara Grab telah melakukan ekspansi beberapa saat setelah Go-Jek populer di Indonesia. Kedua perusahaan mengklaim bahwa mereka telah menjadi Super Apps, yang digunakan orang di Asia Tenggara untuk kehidupan sehari-hari mereka. 

Berbeda dengan Go-Jek, Grab menjadi platform terbuka dengan keberadaan GrabPlatform, serangkaian Aplication Programming Interface (API) yang memungkinkan para mitra Grab mengakses beragam komponen teknologi Grab, seperti transportasi, logistik, pembayaran, otentikasi pengguna, pengiriman pesan, wawasan, dan pemetaan. Grab tidak sembarang mengajak mitra untuk bergabung dengan mereka. Hanya mitra pilihan dan yang terbaik yang dapat menggunakan GrabPlatform untuk mengintegrasikan layanannya. 

Selain GrabPlatform, Grab juga kerap mendapat kucuran dana segar dari investornya. Pendanaan terakhir sebesar USD6 miliar yang mereka dapatkan akan difokuskan untuk melanjutkan investasi di Indonesia. Setelah mengakuisisi Uber, Grab menjadi layanan ride-hailing sekaligus Super Apps terdepan di Asia Tenggara. 

Persaingan Go-Jek dan Grab menjadi Super Apps di Asia Tenggara semakin ketat. Keduanya sama-sama memiliki dukungan dana yang besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pelanggan.

Sumber: Vice, Tech in Asia, Kontan, Katadata.

Comments
Write Comment