Insight

Vietnam dan Indonesia Miliki Pertumbuhan Logistik Paling Tinggi di Asia Tenggara

By Tim Editor21 Januari 2019 2 Mins Read
4 0

Gambar: Breno Assis / Unsplash

OFiSKITA – Pasar negara berkembang masih menarik banyak investor yang telah lama mengincar daerah seperti Asia yang memiliki potensi laba yang lebih tinggi. 

Investasi pasar berkembang meningkat ketika ekonomi tumbuh dan aset yang dapat diinvestasikan juga tumbuh. Salah satu pasar yang menarik bagi investor adalah ASEAN, banyak investor yang tertarik dengan Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand. Tak hanya menarik, investor melihat peluang besar dengan adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Menurut salah satu pengembang di Manila, Filipina adalah pasar domestik yang tidak mengekspor banyak, sehingga urusan dagang biasanya tidak mempengaruhi mereka. 

Di tahun 2019, kita akan segera melihat lebih banyak perusahaan Cina yang menggesernya untuk menghindari tarif pajak Amerika Serikat.

Di Asia Tenggara, Vietnam menjadi pusat perekonomian baru. Ini dikarenakan kota Ho Chi Minh berada di peringkat tertinggi pasar di Asia Tenggara berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga penelitian PwC pada laporan yang berjudul “Emerging Trends in Real Estate.”

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Vietnam tumbuh 6,8%, menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara dengan pasar yang kuat dikuasai oleh produsen Cina dan Jepang. Perumahan  menjadi fokus bagi investor asing di Vietnam, mereka biasanya bermitra dengan pengembang lokal. Selain itu, sejumlah kesepakatan dibuat dengan investor asing. Segmentasi pasar kini telah bergeser dari spektrum tinggi ke menengah, karena urbanisasi di Vietnam mengarah pada permintaan perumahan di pusat-pusat kota besar. Pemerintah Ho Chi Minh memproyeksikan permintaan perumahan baru berjumlah sekitar 400.000 unit untuk tahun 2019. Diperkirakan harga rumah di Ho Chi Minh City sekitar USD80.000. 

Di sisi lain, Indonesia telah berada dalam radar para investor yang membidik pasar berkembang selama bertahun-tahun. PwC juga melakukan survei di ibukota Jakarta tentang perumahan. Dan hasilnya, pertumbuhan real estate di Jakarta diproyeksikan menurun sebagai akibat dari perkantoran kantor dan perumahan yang berkelanjutan.

Namun Indonesia masih memiliki minat investor asing yang signifikan. Menurut salah satu konsultan lokal, aktivitas di kawasan industri yang sudah mapan diredam mengingat tingginya harga. 

Menurut PwC, permintaan infrastruktur sedang booming di Vietnam, Indonesia, dan India, di mana pajak barang dan jasa (GST) pada pertengahan 2017 telah merevolusi cara pengiriman barang. Manifesto yang dikeluarkan presiden telah mengamanatkan pembangunan satu juta unit perumahan yang terjangkau sejak 2015, dengan sekitar 2,4 juta unit dibuat pada akhir 2017. Pemerintah Indonesia baru-baru ini menciptakan program untuk menghapus persyaratan pinjaman minimum. Pemerintah Indonesia juga dilaporkan mempertimbangkan penggunaan cetak 3D untuk membuat stok rumahan yang terjangkau. 

Sumber: PwC

Related Articles
Insight

Pengembangan Perangkat Lunak yang Akan Mendominasi Di Tahun Ini

By Tim Editor14 Februari 2019 3 Mins Read
Insight

Kebutuhan Para Digital Savvy di Asia

By Tim Editor04 Februari 2019 2 Mins Read
Insight

Model Toko Ritel Berubah Seiring Berjalannya Waktu

By Tim Editor23 Januari 2019 2 Mins Read
Insight

Konsep Brick Kembali Hits di Kalangan Konsumen

By Tim Editor23 Januari 2019 2 Mins Read
Insight

Peran Asisten Virtual untuk Tingkatan Pengalaman Pelanggan

By Tim Editor23 Januari 2019 2 Mins Read
Insight

E-commerce Diprediksi Akan Terus Berkembang di Tahun 2019

By Tim Editor18 Januari 2019 2 Mins Read
Insight

Alfamart Akan Tambah 200 Toko di Filipina

By Tim Editor18 Januari 2019 2 Mins Read
Insight

H&M Rencanakan Uji Coba Layanan dan Fitur Digital

By Tim Editor18 Januari 2019 2 Mins Read
Comments
Write Comment